Selamat Datang di Website kami Home camera fotografi shtter speed fill in flash

Senin, 12 Juni 2017

peretasan sony picture entertaiment


Perkembangan teknologi informasi telah membawa banyak perubahan yang memberikan kemudahan dalam dunia bisnis maupun kehidupan sehari-hari. Tak dapat dipungkiri, selain memiliki nilai positif, teknologi juga mempunyai efek negatif yang berkaitan dengan cyber crime.
Menanggapi hal itu, ketua Indonesia security incident response team on internet infrastruktur, Rudi Lumanto, mengungkapkan semakin tingginya behavior atau gaya hidup digital, maka semakin tinggi pula risiko terjadinya pembajakan. Gambaran global dimana ada 232 PC terinfeksi malware, bahkan dalam 1 menit terjadi 20 peristiwa pembajakan dan 12 website telah dihack. Factor penyebab terjadinya cyber crime tersebut, yakni malware, technology convergence behavior consumer & IT security.

Pada akhir November 2014 terjadi Serangan besar-besaran terhadap sistem keamanan komputasi Sony Picture mendorong FBI untuk turun tangan karena sudah masuk kategori sangat berbahaya, yang akan berdampak luas ke sektor yang lebih penting. FBI mengklaim telah mengidentifikasikan jenis malware yang digunakan hacker untuk membobol sistem komputasi Sony Pictures.
Meski tak diungkap secara rinci, namun pihak FBI menyebutkan jika jenis malware ini sudah pernah digunakan untuk menyerang perusahaan besar di korea selatan dan timur tengah.
Sejauh ini Guardian Of Peace (GOP), ditenggarai sebagai kelompok hacker yang bertanggung jawab atas peretasan ini. GOP juga sebelumnya telah mempublikasikan daftar file yang berhasil mereka curi dari jaringan komputer sony pictures. Diantaranya salinan digital dokumen passport dan visa sejumlah selebriti ternama, lebih dari 700 dokumen berisi password, 179 arsip email outlook milik eksekutif dan staff IT.

Kasus ini berawal dari polemik Film Kontroversial “The Interview”. Film komedi tersebut berisi olok – olokan terhadap pemimpin Korea Utara, sebuah badan tertinggi negara yang dipimpin oleh Kim Jong-Un, mengatakan bahwa Obama di balik peluncuran film “The Interview”. “Obama selalu pergi sembrono dalam kata – kata dan perbuatannya yang seperti monyet di hutan tropis,” kata seorang juru bicara komisioner sebut tanpa menyebutkan namanya yang disiarkan kantor berita KCNA. Komisi itu juga menuduh Washington dibalik padamnya internet di Korea Utara pada pekan ini. Setelah AS berjanji untuk merespon serangan cyber terhadap Sony Pictures. “AS negara besar, mulai menggangu operasi internet media utama DPRK, tidak tahu malu seperti anak – anak yang sedang bermain.” Lanjut juru bicara komisi itu.

SEKILAS TENTANG FILM THE INTERVIEW

The interview adalah sebuah film komedi aksi politik Amerika pada tahun 2014 yang disutradai oleh Evan Goldberg dan Seth Rogen, dan ditulis oleh Dan Sterling. Film tersebut dibintangi oleh Rogen dan James Franco sebagai jurnalis yang diinstruksikan untuk membunuh pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un (diperankan oleh Randall Park) setelah sukses membukukan sebuah wawancara dengannya.
Terhitung sejak akhir November, Sony Pictures menjadi bulan – bulanan hacker. Disebutkan ada sekitar 100 terabytes data rahasia perusahaan yang dikuasai oleh hacker. Sebagian bahkan telah dipublikasikan oleh kelompok hacker Guardian of Peace (GOP) yang mengklaim sebagai pihak dibalik serangan tersebut.

Sejauh ini pemicu utama serangan hacker kepada Sony Pictures diyakini disebakan oleh film kontrovesial The Inteview. Film komedi yang mengangkat tema usaha pembunuhan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un itu mmembuat geram pemerintahan Korea Utara dan para simpatisannya termasuk kelompok hacker GOP.

FBI mengklaim memiliki bukti otentik yang menunjukan bahwa pihak Korea Utara lah yang selama ini menjadi dalang peretasan di server Sony Pictures Entertainment. Peretasan tersebut berujung tertundanya penayangan film The Interview di biosko – bioskop AS.

Bukti yang dimaskud Comey tersebut dikutip Kompas Tekno dari The Verge, Rabu (7/1/2015) adalah alamat IP (Internet Protocol) yang tidak disembunyikan oleh para peretas.
Kelalaian tersebut membuat penyelidik di FBI bisa melacak dari mana asal email dan pesan yang disampaikan oleh Guardian of Peace (GOP) kepada karyawan Sony.
Menurut FBI, alamat IP tersebut hanya ekslusif dimiliki oleh Korea Utara. Sebagaimana diketahui Korea Utara memberlakukan akses yang ketat terhadap warganya untuk mengakses internet. Semua koneksi internet dikontrol pemerintahan sehingga pihak ketiga akan sulit unutkk membajak IP address Korea Utara tanpa sepengetahuan pemerintah.

PENGAKUAN KIM JONG-UN

Tuduhan Sony yang mengungkap bahwa Korea Utara berada dibalik penyerangan situs Sony Pictures Entertainment tidak dibantah oleh presidennya, Kim Jong-un. Hal ini dilakukannya terkait film baru yang akan diliris oleh Sony Pictures yang bertajuk The Interview.
Seperti dikutip dari Mirror, Selasa (1/12/2014), ketika ditanya tentang negara komunis Korea Utara mengenai serangan cyber terhadap situs Sony Pictures, penjabat Korea mengutarakan, “Tunggu dan Lihat.”

Serangan ini sendiri memang telah diakui oleh penjabat korea Utara yang mengakui hal tersebut sebagai balasan sakit hatinya dan seperti diketahui, Korea Utara memiliki sebanyak 3000 tentara cyber atau hacker yang memang dibangun dan dipekerjakan unutk membatu pemerintahan Kim dalam mengacaukan musuh – musuhnya dari jalur Internet.

BUNTUT PERETASAN SONY PICTURES, AS SANKSI KOREA UTARA

Pemerintahan Amerika Serikat melalui Presiden Barack Obama telah menjatuhkan sanksi kepada Korea Utara akibat peretasan tersebut. Seperti dikutip Kompas Tekno dari The Verge, Sabtu (3/1/2015), sanksi ini disebut sebagai respon pertama dri pemerintahan AS terhadap serangan cyber yang disebut didalangi oleh Korea Utara. Namun, Korea Utara tetap mengaku tidak tahu – menahu soal peretasan Sony, walau dalam beberapa kesempatan Korea Utara juga menyampaikan pujian terhadap Guardian of Peace.

Terdapat tiga entitas di Korea Utara yang menjadi target sanksi ini, termasuk lembaga intelegen Korea Utara dan perdagangan senjata lokal. Sepuluh orang yang terafiliasi dengan lembaga – lembaga tersebut juga terkena sanksi secara spesifik.

Salah satu sanksinya adalah bahwa orang dan lebaga itu kemudian tidak boleh mengakses sistem keuangan AS. Selain itu ada juga ;arangan bagi warga negara AS untuk berhubungan bisnis dengan merea (Korea Utara).

Tindakan ini disebut sebagai “aspek pertama” dari respon AS pada aksi peretasan yang menurut FBI didalangi oleh Korea Utara. Sebutan itu secara implisit menolak dugaan bahwa AS turut andil dalam peristiwa matinya internet di Korea Utara.

Original Content of Cara Membuat Read More atau Baca Selengkapnya di Blogspot | Kang Sunu™ Blogsite http://kangsunu.blogspot.com/2012/04/cara-membuat-read-more-atau-baca.html#ixzz2IQMvzUTy Copyright. Kang Sunu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar